IRA PUSPADEWI, TUHAN, DAN THE DARK NIGHT OF THE SOUL

Haidar Bagir, 01 Desember 2025; Hanya satu hari setelah bebas dari penjara berkat keputusan rehabilitasi oleh Presiden Prabowo, Bu Ira Puspadewi—mantan Dirut ASDP—berbicara di Rumah Perubahan milik Pak Rhenald Kasali tentang remuknya hati beliau mendapatkan hukuman atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Pada kesempatan itu beliau bercerita betapa ia mengalami pertempuran batin yang berat, sampai pada satu titik ia merasa sangat kecewa dan dalam kesunyian terdalam hatinya bertanya: “Kenapa Allah meninggalkan saya?”
Sekadar informasi, Ibu Ira adalah seorang perempuan beriman—tidak hanya tampak dari busana dan kerudung rapi yang dikenakannya, tetapi juga dari keseluruhan cara hidupnya yang religius.
Bagaimana tidak remuk hati Ibu Ira? Ia bahkan sempat dijebloskan ke ruang isolasi selama tiga hari tanpa jendela. Sebuah pengalaman yang tentu bukan hanya menyiksa tubuh, melainkan lebih-lebih mengebaskan jiwa.
Namun justru dalam keterasingan paling gelap itu ia merasa tidak punya lagi tempat mengadu kecuali kepada sesuatu yang tidak menempati ruang, tidak terlihat, namun penuh kuasa dan penuh belas kasih. Pada saat itulah ia membaca surat Adh-Dhuha—sebuah surat yang dulu diturunkan untuk menghibur Nabi ketika beliau merasa sendirian:
“Demi waktu Dhuha,
dan demi malam ketika menyelimuti dengan kegelapan.
Tidaklah Rabbmu meninggalkanmu, dan tidak pula membencimu.
Dan sungguh yang kemudian akan lebih baik bagimu daripada yang permulaan.
Dan kelak Rabbmu pasti akan memberimu, lalu engkau menjadi ridha.
Bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim lalu Dia melindungimu?
Dan Dia mendapatimu bingung lalu Dia menunjukimu jalan keluar…?”
Ibu Ira merasa ayat-ayat itu seolah berbicara langsung kepadanya. Situasinya nyaris identik dengan apa yang digambarkan Al-Qur’an. Ibu Ira sendiri adalah anak yatim, yang kehidupannya tentu diwarnai oleh jatuh bangun yang menyulitkan. Sebelum dia berhasil meniti karier sampai ke puncak, menjadi Direktur Utama BUMN dan Direktur di sebuah perusahaan multinasional besar. Sedang kini ia berada di sebuah kegelapan yang menyesakkan, kehampaan batin, dan berada dalam harapan akan janji lembut bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar pergi meninggalkan.
Dan, benarlah, tak lama setelah itu, datanglah keputusan rehabilitasi itu—sebuah jalan keluar yang sama sekali tak ia duga.
Meski tak persis sama, kisah Ibu Ira mengingatkan saya pada gagasan spiritual yang dalam tradisi mistik yang dalam tradisi Kristen, disebut sebagai The Dark Night of the Soul. Suatu keadaan ketika seseorang mengalami kegelapan batin, hingga rasa seakan-akan terusir dari kehadiran Tuhan. Namun justru melalui pengalaman itu ia dibimbing menuju pemurnian jiwa, pengaruniaan petunjuk, dan pencerahan batin yang lebih dalam.
Dalam tradisi ini diceritakan bahwa perjalanan menuju Tuhan tidak selalu melalui cahaya, tetapi sering justru melalui kegelapan ruhani yang dahsyat. Hingga kegelapan itu tak lagi sekadar penderitaan, melainkan proses pengosongan diri total dari ego, kemelekatan dengan apa saja, kecuali dengan Tuhan. Kata St. John the Cross, “Tuhan menenggelamkan jiwa kepada kegelapan demi membebaskannya dari apa saja yang bukan Tuhan.”
Orang juga mengaitkan hal ini pada jeritan spiritual Yesus di tiang salib (sebagaimana dicatat dalam Injil Matius): “Eli, Eli, lama sabaktani? “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Jeritan yang bukan lahir dari hilangnya iman, melainkan justru kerinduan yang amat dalam, “Tuhanku, Tuhanku…” Dari kedalaman pengalaman kemanusiaan yang sepenuhnya menyerahkan diri pada kehendak Tuhan, meski yang ada di hadapan hanyalah kegelapan dan kehampaan.
Dalam seluruh tradisi mistik besar, momen seperti ini dicatat sebagai puncak penyerahan total, titik pemurnian tertinggi, dan pintu menuju kebangkitan.
Meski kisah ratapan Yesus di tiang salib tidak dicatat dalam tradisi Islam, gagasan semacam The Dark Night of the Soul ini bukan tak ada padanannya dalam tradisi sufi. Ibn ‘Arabī menyebut fase ini sebagai al-tajalli bi shurah al-zhulumat—“tajalli dalam bentuk kegelapan”—ketika Tuhan menarik cahaya-Nya, bukan karena Ia pergi, tetapi karena intensitas-Nya terlalu dahsyat bagi kesadaran manusia.
Rumi menggambarkannya sebagai malam panjang di mana seseorang mencari Sang Kekasih tanpa jawaban, namun justru dalam senyap itulah cinta diperdalam. Ghazali menyebutnya sebagai fase al-qabdh, penyempitan ruhani setelah masa kelapangan, al-basth, sebagai ujian apakah seseorang mencintai Tuhan atau sekadar mencintai rasa religiusnya.
Para mistikus sepakat bahwa Dark Night adalah cara Tuhan menghancurkan ego agar cinta murni dapat tumbuh. Fase ini muncul hanya ketika seseorang telah cukup matang secara spiritual, ketika ia siap melampaui agama lahiriah menuju kedalaman batin, dan ketika semua konsep mental tentang Tuhan harus runtuh untuk memberi ruang bagi perjumpaan sejati.
Tentu tidak mudah membedakan Dark Night dari depresi atau kesedihan mendalam “biasa”. Namun ada ciri-ciri yang khas. Doa (sempat) terasa hampa, tetapi bukan karena kehilangan iman; justru karena seseorang sedang dibawa melampaui bentuk-bentuk lama. Ada kerinduan yang tetap menyala, meski tanpa rasa. Tidak ada dosa besar yang memicunya, karena ini bukan krisis moral tetapi krisis spiritual. Hati seperti berada dalam ruang kosong, namun justru dari kekosongan itu muncul kecerdasan ruhani yang baru —suatu kepekaan, kedalaman, belas kasih.
Dalam psikologi modern, fase ini dipahami sebagai semacam ego-death, restrukturisasi makna, atau perjalanan menembus kedalaman ketidaksadaran menuju kelahiran diri yang baru.
Viktor Frankl mengatakan, “Ketika makna lama hancur, jiwa dibuat siap untuk makna yang lebih tinggi.” Jung menyebutnya sebagai proses turun ke “perut bumi psiquis” sebelum seseorang menjadi dirinya yang sejati.
Pada akhirnya, Dark Night selalu berakhir. Seperti kata St. John: La Noche Oscura, La Llama de Amor Viva: dari malam gelap menuju Nyala Cinta yang Hidup.
Seperti kata Rumi, “Kegelapan adalah rahim bagi kelahiran cahaya.”
Maka apa yang dialami Ibu Ira, di balik seluruh rasa sakitnya, tampaknya adalah bagian dari perjalanan semacam itu. Kegelapan yang menyesakkan justru membawanya kepada cahaya yang lebih jernih. Dan mungkin seperti Nabi yang dihibur dalam surat Adh-Dhuha, atau seperti Yesus yang meratap di kayu salib, ia menemukan bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkan siapa pun—meski sering kali kehadiran-Nya baru tampak setelah seseorang melewati malam-malam yang paling gelap. Apalagi ini kecuali sebuah lompatan keimanan yang membawa ke puncak Ketuhanan?
Dan demikianlah, Dark Night of the Soul selalu mengajarkan satu hal: Tuhan tidak pernah absen; hanya kita yang perlu dilepaskan dari segala yang menghalangi kita dari-Nya.
