Kisah Tragis Teuku Markam, Penyumbang 28 Kg Emas Monas, Dipenjara Orba, Asetnya Disita

Siapa yang tidak mengenal Monas Tugu kebanggaan bangsa, simbol perjuangan, sekaligus ikon Jakarta yang menjulang gagah di jantung ibu kota. Namun, di balik kemegahannya, tersimpan perjalanan panjang yang penuh idealisme, pengorbanan, dan kisah pilu yang jarang terdengar.
Monas: Mimpi Besar dari Sebuah Bangsa yang Baru Lahir
Ketika Indonesia masih terseok-seok sebagai negara muda yang baru merdeka, gagasan menghadirkan tugu monumental sudah bergulir. Tahun 1954, ide ini mulai dibicarakan, namun baru pada 1961 Presiden Soekarno mencanangkannya secara resmi. Meski ekonomi sedang sulit, Bung Karno ingin Indonesia berdiri gagah di mata dunia dan Monas menjadi simbol cita-cita itu.
Menariknya, gagasan pendirian Monas bukan pertama kali muncul dari para pejabat negara. Sarwoko Martokoesoemo, seorang warga biasa, justru menjadi penggerak awal. Ia membayangkan sebuah simbol perjuangan bangsa yang berdiri di tengah Lapangan Merdeka. Gagasannya lalu disampaikan, dan Soekarno menyambutnya dengan penuh semangat.
Monas dirancang oleh arsitek hebat bangsa Frederich Silaban, dibantu Soedarsono dan Rooseno, sosok-sosok yang juga melahirkan karya monumental lain seperti Masjid Istiqlal.
Pembangunan Panjang 14 Tahun: Dari Soekarno ke Soeharto
Pembangunan Monas berlangsung dalam tiga tahap besar:
1. Tahap Pertama (1961–1965)
Dipimpin langsung oleh Soekarno sebagai Ketua Panitia Monumen Nasional.
Pengerjaan fondasi, struktur dasar, dan konsep simbolik menjadi fokus utama.
Maret 1962, fondasi akhirnya berdiri kokoh.
2. Tahap Kedua (1966–1969)
Situasi politik nasional memanas. Gerakan politik, G30S, dan peralihan kekuasaan membuat pembangunan Monas sempat terbengkalai.
Namun panitia baru di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tetap melanjutkan pembangunan fisik semaksimal mungkin.
3. Tahap Ketiga (1969–1975)
Era Soeharto mengambil alih. Fokus utamanya adalah penyempurnaan, termasuk pemasangan diorama sejarah Indonesia yang kini menjadi bagian penting museum Monas.
Pada tahun 1975, Monas resmi dibuka untuk publik.
Ironisnya, Soekarno pencetus Monas tidak pernah melihat karyanya itu rampung. Ia wafat pada tahun 1970, dalam masa pengasingan di Wisma Yaso, lima tahun sebelum Monas berdiri sempurna.
Partisipasi Rakyat: Monas Dibangun oleh Gotong Royong Bangsa
Sebagai proyek kebesaran bangsa, pendanaan Monas melibatkan rakyat. Pemerintah mewajibkan sumbangan dari pengusaha bioskop di seluruh Indonesia.
Dalam waktu singkat, terkumpullah dana sebesar Rp 49.193.200,01 dari 15 bioskop (1961–1962).
Namun yang paling fenomenal adalah kontribusi Teuku Markam, pengusaha kaya Aceh yang dekat dengan Soekarno. Ia menyumbangkan 28 kilogram emas, dari total 38 kilogram emas yang kini menghias puncak Monas. Emas inilah yang membentuk “lidah api” Sang Monumen Kebanggaan.
Tragedi Teuku Markam: Dari Puncak Kejayaan ke Penjara Tanpa Persidangan
Nama Teuku Markam menjadi legenda bukan hanya karena sumbangannya, tetapi juga karena nasib tragis yang menimpanya.
Lahir pada 1925 di Aceh, ia dulunya berdinas di militer sebelum banting setir menjadi saudagar. Melalui PT Markam, ia menggarap banyak proyek besar, mulai dari Aceh hingga Jawa.
Kedekatannya dengan Presiden Soekarno menjadikannya sosok berpengaruh pada era awal Republik.
Namun segalanya berubah setelah Soeharto berkuasa.
Pada tahun 1966, Teuku Markam dituduh terlibat dalam pemberontakan PKI serta dicap sebagai pendukung Soekarno garis keras.
Tanpa proses pengadilan, ia dipenjara dan berpindah-pindah tahanan:
Budi Utomo → Guntur → Salemba → Cipinang → Nirbaya (Pondok Gede).
Hartanya dilucuti, perusahaannya hancur, dan hidupnya berakhir dalam kesunyian sebuah kisah tragis yang jarang diangkat dalam sejarah resmi.
Monas: Lebih dari Sekadar Tugu
Monas bukan hanya bangunan beton dan emas.
Ia adalah simbol dari:
mimpi besar bangsa yang ingin diakui dunia,
gotong royong dan partisipasi rakyat,
semangat Soekarno yang tak pernah padam,
dan kisah-kisah manusia yang ikut mewarnai perjalanan sejarahnya.
Dari warga biasa bernama Sarwoko, hingga pengusaha dermawan Teuku Markam, Monas berdiri sebagai saksi bisu harapan dan tragedi yang membentuk Indonesia.
Sumber : Kompas.com

Bagi keluarganya yang jika (masih) mendapatkan intimidasi, karena menikah dengan WNA/ WNI di anggap sebagai ‘pengganggu’ penguasa karena 1 & lain hal atau di penjara karena politik yaitu tanpa proses persidangan yg jelas, bisa menghubungi admin via email; 911@pusbakum.com
