Ketika Syahwat Merubahnya Menjadi Wafat

Kisah ini terjadi di Palembang pada Rabu, 7 Maret 2018. Sebuah tragedi rumah tangga yang berakhir dengan tumpahnya darah, bukan di medan perang, melainkan di tempat yang seharusnya menyelamatkan nyawa: Rumah Sakit.
Pelakunya adalah Suciaty (37), seorang istri dan ibu yang kesabarannya telah habis. Korbannya adalah Isnadi (39), suaminya sendiri. Apa yang membuat seorang istri nekat menghabisi nyawa suaminya dengan cara yang begitu dingin?
I. Hujan dan Pengkhianatan
Hari itu, langit Palembang turun hujan deras, seolah mewakili perasaan Suciaty yang sedang gundah. Isnadi, sang suami, tak kunjung pulang. Rasa khawatir bercampur curiga membuat Suciaty nekat menerobos hujan untuk mencari keberadaan suaminya.
Hatinya hancur berkeping-keping ketika ia mendapatkan kabar bahwa suaminya berada di rumah seorang wanita lain. Dengan sisa keberanian, Suciaty mendatangi rumah tersebut.
Di sana, ia menyaksikan mimpi buruk setiap istri. Ia memergoki suaminya baru saja berhubungan badan dengan wanita selingkuhannya. Dengan menahan air mata dan amarah, Suciaty mencoba mengingatkan suaminya:
“Pulanglah, Pak. Ingat anak dan istri. Kamu punya tanggung jawab rumah tangga.”
Namun, bukannya malu atau menyesal, Isnadi justru marah besar. Di depan selingkuhannya, ia mengusir Suciaty pulang. Karena takut dipukul di depan orang lain, Suciaty pulang dengan hati yang remuk.
II. KDRT dan Ledakan Emosi di Rumah
Tak lama kemudian, Isnadi pulang ke rumah mereka di Kertapati. Namun, ia pulang bukan untuk minta maaf. Emosinya meluap. Ia memarahi Suciaty, bahkan membenturkan kepala istrinya itu ke dinding hingga sakit. Setelah puas melampiaskan amarah, Isnadi masuk kamar dan tidur, seolah tak terjadi apa-apa.
Suciaty duduk terpaku menahan sakit di kepalanya. Di tengah keheningan, ia mendengar suara anak bungsunya memanggil namanya. Rasa sakit fisik dan batin itu tiba-tiba berubah menjadi gelap mata. Melihat suaminya tertidur pulas dengan sebilah badik (pisau tradisional) tergeletak di sampingnya, akal sehat Suciaty hilang. Ia mengambil senjata milik suaminya itu dan menusukkannya ke perut Isnadi.
Isnadi terbangun karena kesakitan. Ia sempat menjambak rambut Suciaty dan memukulinya kembali sebelum akhirnya berlari keluar rumah. Ia mendobrak pintu hingga rusak, berteriak meminta tolong kepada warga.
Keluarga dan tetangga segera melarikan Isnadi ke RSUD Palembang BARI. Saat itu, semua orang mengira drama ini sudah selesai karena Isnadi masih hidup dan sudah mendapatkan pertolongan medis.
III. Ketakutan yang Membawa Maut
Sementara Isnadi dirawat di IGD, Suciaty ditinggal sendirian di rumah. Ia merenung, namun bukan penyesalan yang datang, melainkan ketakutan yang luar biasa. Ia teringat ancaman yang sering dilontarkan suaminya:
“Kalau aku selamat, kau yang kubunuh.”
Kata-kata itu terngiang-ngiang. Suciaty berpikir, jika suaminya sembuh dan pulang dari rumah sakit, nyawanya lah yang akan melayang.
“Daripada aku mati duluan dibunuhnya nanti, lebih baik aku habisi dia sekarang,” pikirnya.
IV. Eksekusi di Rumah Sakit
Sore menjelang malam, Suciaty menyusul ke RSUD Palembang BARI. Kepada satpam dan perawat, ia beralasan ingin membesuk dan mengantarkan perlengkapan untuk suaminya. Wajahnya tenang, namun di balik bajunya, ia menyembunyikan sebuah pisau.
Ia masuk ke ruang tindakan. Di sana, Isnadi sedang terbaring lemah dengan infus dan perban, kondisinya mulai stabil. Tanpa ragu, di hadapan pasien lain dan tenaga medis, Suciaty mendekat, mencabut pisaunya, dan kembali menusuk dada serta ulu hati suaminya berkali-kali. Jeritan histeris terdengar di ruang IGD. Kali ini, Isnadi tak bisa lari. Ia tewas di tempat di tangan istrinya sendiri.
V. Hukum dan Penyesalan
Suciaty tidak lari. Ia langsung diamankan oleh satpam rumah sakit. Di hadapan polisi Polsek Seberang Ulu I, ia mengakui semua perbuatannya dengan tatapan kosong, didorong oleh rasa sakit hati akibat perselingkuhan dan trauma KDRT yang menahun.
Pada Agustus 2018, Pengadilan Negeri Palembang menjatuhkan vonis 7 tahun penjara kepada Suciaty. Hakim memberikan hukuman yang lebih ringan dari tuntutan jaksa karena mempertimbangkan tekanan psikologis yang dialami terdakwa selama berumah tangga, serta nasib anak-anak yang kini kehilangan ayah dan harus berpisah dari ibunya.
Sebuah tragedi pilu di mana cinta berubah menjadi racun, dan rumah tangga hancur oleh perselingkuhan dan kekerasan.
