Hilangnya Rasa Cinta Sesama Jenis Setelah Operasi ini

Tahun 1948 seharusnya menjadi masa depan yang cerah bagi James Peterson, seorang pemuda berusia 28 tahun yang dikenal cerdas, artistik, dan penuh gairah. Namun, hidupnya berakhir di sebuah meja operasi yang dingin. Bukan karena penyakit mematikan, melainkan karena “Sakit Jiwa” karena mencintai sesama jenis, label yang diberikan masyarakat waktu itu untuk hasrat menyimpangnya.
Ketika orang tua James mengetahui hubungan asmaranya dengan seorang pria, mereka membawanya ke rumah sakit jiwa dengan harapan sang anak bisa “disembuhkan”. Diagnosis dokter saat itu sangat tegas : “Perversi Seksual.”
Solusi yang ditawarkan dunia medis saat itu terdengar seperti film horor: Lobotomi Transorbital.
Dalam prosedur yang hanya memakan waktu 15 menit ini, dokter menggunakan alat menyerupai pemecah es yang dimasukkan melalui rongga mata, tepat di atas bola mata, untuk memutus jaringan saraf di lobus frontal otak. Tujuannya? Menghilangkan perilaku yang dianggap menyimpang.
Foto yang diambil dua jam setelah operasi memperlihatkan James dengan tatapan yang tidak akan pernah sama lagi.
Dokter mencatat kondisi James :
“Pasien tampak tenang. Tidak lagi menunjukkan minat seksual yang menyimpang. Prosedur berhasil.”
Namun, kenyataannya sangat jauh dari kata “berhasil”. James memang tidak lagi menunjukkan ketertarikan seksual pada pria, tetapi ia juga tidak lagi memiliki kepribadian.
Sebelumnya adalah pelukis berbakat dan pencinta puisi yang kritis.
Setelah operasi Ia berubah total . Ia hanya bisa menatap dinding, mengikuti instruksi sederhana tanpa emosi, dan kehilangan seluruh ingatan serta jati dirinya.
Orang tua James, yang awalnya menginginkan putra yang “normal”, akhirnya menyadari kengerian yang mereka izinkan.
Setelah melihat kondisi James yang seperti cangkang kosong pada tahun 1949, mereka pergi dan tidak pernah kembali lagi. Mereka mendapatkan putra yang “tidak gay”, tapi mereka kehilangan putra mereka sepenuhnya.
James bertahan hidup selama 46 tahun lagi dalam kondisi lumpuh secara mental dan emosional. Ia meninggal pada tahun 1994 di sebuah rumah perawatan, tanpa pernah kembali menjadi manusia seutuhnya.
Pada masa itu, lobotomi dianggap sebagai penemuan jenius (bahkan penemunya mendapat Nobel). Dokter percaya bahwa dengan merusak otak, mereka bisa “meriset” perilaku seseorang.
Hingga awal 1970-an, homoseksualitas dianggap sebagai gangguan jiwa dalam buku panduan medis resmi (DSM). Hal ini membuat prosedur ekstrem seperti penyetruman saraf hingga lobotomi dianggap legal secara medis.
