Kisah Pembunuh Lulusan Universitas Ngeri Indonesia

Di awal September 2020, Jakarta menjadi saksi pertemuan dua nasib yang sangat bertolak belakang. Di satu sisi, ada Rinaldi Harley Wismanu (32). Ia adalah definisi kesuksesan muda: Manajer HRD di perusahaan kontraktor Jepang, berpendidikan, mapan, dan menjadi tulang punggung keluarga yang dihormati. Ia sedang mencari pasangan hidup.
Di sisi lain, ada sepasang kekasih, Laeli Atik Supriyatin (27) dan Djumadil Al Fajri (26). Laeli sebenarnya adalah sosok yang cerdas, lulusan Universitas Indonesia yang pernah berprestasi.
Namun, ia tersesat dalam hubungan terlarang dengan Fajri. Mereka hidup menggelandang, menganggur, tidur di kos sempit, dan kerap kelaparan berhari-hari. Keputusasaan ekonomi dan “cinta buta” telah mematikan logika mereka.
Mereka butuh uang, cepat dan banyak. Maka, disusunlah sebuah skenario jahat. Laeli menjadi umpan, dan Fajri menjadi eksekutor. Senjatanya adalah aplikasi kencan, Tinder.
I. Perangkap di Pasar Baru
Pada tanggal 5 September 2020, algoritma Tinder mempertemukan Laeli dengan Rinaldi. Bagi Rinaldi, ini mungkin awal dari kisah romansa. Namun bagi Laeli, Rinaldi adalah target sempurna: lugu dan kaya.
Setelah pertemuan kopi darat pertama tanggal 7 September, rencana dimatangkan. Pada 8 September, Laeli menyewa sebuah unit apartemen di Pasar Baru Mansion, Jakarta Pusat, hingga tanggal 12 September. Lokasi ini dipilih bukan untuk romansa, melainkan sebagai ladang pembantaian yang dianggap aman dari pantauan.
II. Eksekusi yang Dingin
Hari yang menentukan itu tiba, 9 September 2020.
Siang hari, Laeli dan Fajri tiba di apartemen. Fajri segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia tidak bermaksud mandi, melainkan bersembunyi. Di tangannya, ia menggenggam batu bata yang sudah dibungkus lakban (agar tidak melukai tangannya sendiri) dan sebuah pisau. Ia menunggu dalam diam.
Sore harinya, Rinaldi datang menemui Laeli. Tanpa curiga, ia masuk ke dalam perangkap. Mereka mengobrol dan kemudian melakukan hubungan intim. Saat Rinaldi dalam posisi paling lengah dan tak berdaya, Fajri keluar dari persembunyiannya.
Hantaman pertama terjadi. Fajri memukul kepala bagian belakang Rinaldi dengan batu bata sebanyak tiga kali. Rinaldi, yang fisik dan mentalnya kuat, tidak langsung tewas. Ia mengerang, mencoba bertahan.
Panik melihat korbannya masih bergerak, Fajri menjadi brutal. Ia mengambil pisau dan menusuk dada Rinaldi sebanyak tujuh kali. Sebelum nyawa Rinaldi melayang, di tengah situasi antara hidup dan mati itu, para pelaku sempat memaksa meminta PIN handphone korban. Setelah mendapatkannya, Rinaldi dibiarkan tewas.
III. Tiga Malam Bersama Jenazah
Inilah fase di mana kemanusiaan mereka benar-benar hilang. Malam itu, 9 September, mereka kelelahan dan ketakutan. Mereka tidak langsung kabur. Mereka justru tidur di apartemen itu, sementara jenazah Rinaldi diseret dan disembunyikan di kamar mandi.
Keesokan harinya, 10 September, mereka bingung bagaimana cara mengeluarkan tubuh korban dari apartemen di tengah kota. Solusi mengerikan pun diambil: Mutilasi. Laeli keluar membeli peralatan: gergaji besi, golok, cutter, cat tembok putih, dan bubuk kopi.
Selama dua hari berikutnya, Fajri dengan bantuan Laeli memotong tubuh korban menjadi 11 bagian. Bagian-bagian itu dibungkus plastik hitam dan ditaburi bubuk kopi dalam jumlah banyak untuk menyamarkan bau amis darah yang mulai membusuk.
Dinding apartemen yang terciprat darah mereka cat ulang dengan warna putih agar pemilik tidak curiga. Mereka bekerja dengan ketenangan yang menakutkan.
IV. Perjalanan Maut ke Kalibata City
Pada 12 September 2020, masa sewa habis. Potongan tubuh Rinaldi dimasukkan ke dalam dua koper besar dan satu ransel. Mereka memesan taksi online. Ada momen ironis ketika sopir taksi membantu mengangkat koper yang sangat berat itu ke dalam bagasi. Ada cairan merah menetes dari koper, namun dengan tenang mereka beralasan itu adalah “kuah makanan” atau barang pecah belah.
Tujuan mereka adalah Apartemen Kalibata City, Tower Ebony, Lantai 16. Unit ini baru saja mereka sewa khusus untuk “gudang” penyimpanan sementara jenazah, sebelum mereka menemukan tempat penguburan permanen.
V. Pesta di Atas Duka
Setelah mayat disembunyikan di Kalibata City, dimulailah pesta kemenangan semu mereka. Berbekal PIN yang dipaksa dari korban, mereka menguras rekening Rinaldi hingga Rp 97 juta. Uang itu mereka gunakan untuk membeli “kehidupan baru”:
– 11 keping emas batangan Antam.
– Dua laptop gaming Asus ROG.
– Jam tangan Tissot.
– Sebuah motor Yamaha N-Max baru.
– Dan menyewa sebuah rumah kontrakan di Permata Cimanggis, Depok.
Di rumah kontrakan Depok inilah mereka berencana mengubur potongan tubuh Rinaldi di halaman belakang. Lubang bahkan sudah mulai digali.
VI. Akhir Pelarian
Namun, kejahatan tidak pernah sempurna. Keluarga Rinaldi yang cemas telah melapor ke Polda Metro Jaya sejak 12 September. Polisi bergerak cepat melacak jejak digital transaksi keuangan korban.
Pola belanja yang tidak wajar di toko emas dan elektronik, serta rekaman CCTV yang menampakkan wajah Laeli dan Fajri, menjadi kunci. Pada 16 September 2020, tim kepolisian menggerebek rumah kontrakan di Cimanggis. Fajri sempat mencoba kabur lewat atap plafon, namun gagal dan dilumpuhkan dengan timah panas di kaki. Keduanya ditangkap. Dari “nyanyian” mereka, polisi menemukan koper-koper berisi jenazah Rinaldi di Kalibata City.
VII. Vonis dan Pelajaran
Di pengadilan tahun 2021, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak menemukan satu pun hal yang meringankan. Perbuatan mereka dinilai sadis, terencana, dan di luar batas kemanusiaan. Palu hakim diketuk: Hukuman Mati untuk Djumadil Al Fajri dan Laeli Atik Supriyatin. Banding mereka ditolak, hukuman tetap berlaku.
Catatan Kecil:
Kisah ini adalah pengingat yang sangat pahit. Bahwa kecerdasan otak (seperti Laeli yang lulusan UI) tidak menjamin kecerdasan moral. Ketika seseorang salah memilih lingkungan (circle) dan terdesak kebutuhan dasar, sisi gelap manusia bisa mengambil alih sepenuhnya.
